

Aug
14
……….aku sedang menikmati senyap…………….
Aug
4
And the risk that might break you
is the one that would save
A life you don’t live is still lost
So stand on the edge with me
Hold back your fear and see
Nothing is real ’til it’s gone
Sepotong lirik lagu dari Goo Goo Dolls berjudul Before It’s Too Late yang saya tuliskan di halaman pertama sebuah lembaran kertas bergaris yang masih kosong dalam perjalanan menuju Stasiun Tawang, Semarang, 1 Agustus 2008. Tidak ada suatu benda spesial apapun yang saya bawa untuknya. Hanya sebuah buku catatan kecil dan sebatang pensil yang telah teraut tajam.
.
Dan ujung grafit itupun mulai menggoresi halaman-halaman kosong yang ada di pangkuan saya sesaat setelah gerbong kereta bergerak. Kereta api Argo Sindoro yang berangkat dari Gambir, gerbong 1, kursi dekat jendela. Warna langit ketika itu masih biru yang tak benar-benar biru ketika saya mulai menulis. Ada rasa ragu sebenarnya ketika hendak memulai. Malu apabila diperhatikan oleh penumpang lain yang duduk di sebelah serta guncangan di dalam kereta ini yang terasa cukup membuat tidak nyaman . Tapi tampaknya bapak separuh baya di sebelah saya sedang sibuk sendiri membaca sebuah buku, jadi dengan berusaha keras saya mencoba untuk menyesuaikan diri dengan guncangan dan mulai konsentrasi mencoretkan kata.
.
Kereta bergerak, masih pelan karena di kiri kanan rel masih penuh dengan pemukiman dan persimpangan yang berpalang. Di atas kursi nomer 5A, Jakarta bagai slide foto yang diputar di layar kaca. Seperti slide foto juga memori yang ada di kepala saya urai. Kejadian demi kejadian saya tumpahkan di atas buku, lembar demi lembar. Tidak lengkap tapi membantu saya menuntun untuk menegaskan alasan perjalanan ini.
.
Buku catatan yang sudah saya beli dari sejak lama namun tak pernah terpakai dan sebatang pencil gratisan dari kantor ini memang sama sekali tampak tidak berharga untuk diberikan kepada seseorang perempuan yang istimewa. Tapi dengan ini saya mencoba untuk mendifinisikan kembali makna sebuah benda berharga. Buku dengan tulisan ceker ayam di dalamnya ini adalah saya. Saya dengan segala ketidaksempurnaan yang akhirnya melihat labuhan setelah sekian lama berlayar. Kalimat-kalimat yang terajut adalah semua keraguan dan pertanyaan yang timbul serta jawaban dan alasan yang saya temukan. Buku ini adalah perasaan saya yang dari jam ke jam semakin disesaki rindu yang terbendung oleh jarak.
.
Lalu roda-roda besi kereta yang setia pada relnya akhirnya sampai juga di Tawang. Dan ketika tatapan mata seorang perempuan jelita memaku langkah saya di depan pintu keluar, buku ini adalah sebuah surat permohonan ijin untuk bisa melangkah dan menetap di hatinya.
Aug
1
dalam sebuah rentang waktu yang sangat sempit menuju keberangkatan saya ke kota lain tiba-tiba terbetik satu keinginan untuk membubuhkan kata terlebih dahulu di jurnal online saya ini. satu penanda bahwa hari ini, untuk ke sekian kali dalam hidup saya mencoba untuk tidak berpikir akan sebuah ketakutan yang di hari-hari sebelumnya selalu saya seret dalam tiap langkah.
saat ini saya adalah pemula yang membayangkan begitu banyak kemungkinan di depan sana. antara tersungkur atau bisa menggenggam piala, bisa jadi peluang saya lebih besar pada kemungkinan yang pertama. meski nomer kursi pulang pergi telah saya genggam, tapi pada hakikatnya bagi saya yang akan saya lakukan ini adalah sebuah tiket sekali jalan. yang manapun kemungkinan baik ataupun buruk yang lebih besar, saya akan menjalaninya untuk menguji keberuntungan. karena buat saya keberuntungan tidak akan bersuara tanpa perbuatan.
jadi, inilah titik awal episode lain dari sebuah hidup yang ingin coba saya tuliskan. jika ketakutan ternyata tidak menghasilkan apa-apa, ada baiknya saya mencoba dan melihat bagaimana hasilnya.
Hari ini…Sudah lima hari saya tidak menulis. Sama sekali tidak menulis. Padahal lima hari terakhir ini saya sedang menikmati badai rasa. Manis, asem, asin ramai rasanya. Banyak ungkapan-ungkapan baru yang saya temukan dalam lima hari terakhir kehidupan saya yang sepertinya bagus kalo dijadikan bahan tulisan.
.
Tapi…Saya masih belum ingin menulis. Belum ada bisikan yang menyuruh saya untuk melarikan pena di lembar putih. Ya, saya memang masih sering menulis di atas kertas sebelum dipindahkan ke layar monitor. Ada sebuah romantisme antara saya, pena, dan kertas yang belum ingin saya tinggalkan sepenuhnya.
.
Jadi…Ya sudah, seperti biasa. Saya biarkan saja dunia kata saya tidur dulu. Tidak lama nanti juga saya akan merindu. Seperti kalender saya yang sudah dilipat rindu cahaya purnama selanjutnya di kotamu. Bingung? Jangan dipikirkan…
Jul
17
curhat lagi Bre…;))
From: “Arimbi” <riri_cute@yahoo.com> ………………………Friday, October 20, 2005 10:00 PM
To: bre.handojo@yahoo.com
.
Akhirnya aku sadar, Bre. Bulan itu memang sudah tercipta pada jarak yang semestinya. Tiga ratus delapan puluh empat ribu kilometer terentang sudah cukup untuk mengatakannya indah. Namun pendar cahaya dari jauh itu juga men-sekresi-kan rindu dari sel-sel kehidupanku. Rindu itu menguraikan sisa-sisa asa, memecah pesimis yang mengungkung tentang harapan yang masihkan ada. Kehadirannya di langitku memberikan kesempatan aku merasakan bahagia. Seringkali sebenarnya aku berharap dia menyapa dan mendekat. Aku mengkhayalkan wajahnya yang cahaya akan menenangkan bila dia hadir lebih dekat. Kalau dia dekat tentu saja aku tidak perlu mendongakkan kepala ke langit tiap dia ada. Capek tau, Bre. Hahaha…
Jul
10
Demi gelas-gelas kopi tidak berampas yang merekatkan kita di malam-malam sepi bersumpahlah, bahwa kamu tidak akan pernah mencintaiku. Jika kamu tidak mencintaiku maka sudah pasti aku tidak perlu memikirkan bagaimana aku harus mencintaimu. Cinta hanya menambah pelik kebersamaan. Kita sedang berusaha untuk menawarkan rasa pahit hidup yang membekas di pangkal lidah. Jadi yang hanya perlu kita lakukan adalah menerima kepahitan itu sampai menjadi tawar. Mungkin tetap tinggal sebagai sebuah senyawa pahit yang sama, tapi setelah waktu berlalu tak akan lagi menjadi getir yang mengganggu rasa kita. Renungkan lagi, kita tercipta satu sama lain hanya sebagai peredam amarah dan gelisah. Kita adalah dua atom dari unsur berbeda dengan elektronegativitas sama yang berbagi elektron dalam satu molekul. Kita disatukan oleh kepedihan yang sama. Aku dan kamu saling mengisi ruang dan bertukar simpati. Hati yang kecil ini tidak bisa dibiarkan hampa sebab kesadaran kita bisa hilang. Kalau kesadaran kita hilang kita tidak bisa berpura-pura bahagia di luar sana. Sedangkan keberadaan kita satu sama lain hanyalah sebuah substitusi yang temporer. Disini kita hanya sedang berbagi beban, bukannya bercinta. Cinta hanya menambah beban di atas titian yang kita bangun dan kita tidak ingin titian itu patah karena beban cinta yang kian hari kian membesar. Aku, kamu, dan cinta bisa terluka, lumpuh atau bahkan mati. Lalu siapa nanti yang akan menjadi jemaat renungan kopi kalau kita mati? Sudahlah, kita tidak perlu cinta. Bersumpahlah bahwa kamu tidak akan pernah mencintaiku dan sudah pasti aku tidak perlu memikirkan bagaimana aku harus mencintaimu.
.
~ sebuah fragmen dari khayalan panjang
Jul
9
Sms dari seseorang di lantai 14 (saya di lantai 5).
from: +628157002XXX
Dis, probable net gay pay map itu apa? Tah pa pa kau ngasih peta dis…
.
to: +628157002XXX
Wakakakakak…Itu gas kali, ndut. Wakakakak….
.
::update
Tersadar ternyata blog ini bukan saya sendiri yang baca dan beberapa orang ternyata tidak mengerti apa maksud tulisan saya maka saya berinisiatif untuk menjelaskan sedikit tentang tulisan di atas. Jadi kejadiannya adalah saya memberikan sebuah peta (map) kepada teman saya di lantai 14 tetapi ternyata ada kesalahan dalam peta tersebut. Judul yang seharusnya saya tuliskan di peta tersebut adalah “Probable net gas pay map” (terjemahan bebas: peta hitungan bersih kemungkinan tebal lapisan yang mengandung gas) tetapi ternyata malah terpeleset menjadi “Probable net gay pay map”. Tentu saja teman saya terheran-heran. Pikirnya, apa saya sudah demikian jeniusnya sehingga bisa memetakan “tebalnya lapisan masyarakat yang mengandung pria-pria gay”.
Some lovers send gifts of flowers
Some lovers send gifts of blood
Some lovers send gifts of tears
I send you my penis
.
may it grow longer and longer
may it stretch thirteen thousand miles
from me to you, ignoring US postal regulations
against parcels longer than 3′6″
.
my lady, my love, don’t cry, relax
open your soul, your mind, be naked
let us hope that my almighty penis
can stand tall and straight
as magnificent as the flagpoles outside the United Nations,
soaring into the air, offering you peace,
amen.
——————————–
Read the rest of this entry »
Jul
7
06.28. Mata kicep-kicep. Astaghfirullah! Setengah tujuh?!? Ngantor kan jam tujuh! Alarm udah disetel tiga lapis kok nggak bangun juga? Semalam tidur jam berapa? Sambar handuk. Cangking peralatan mandi. Buka pintu kamar. Langit sudah terang. Shit! Shit! Shit! Semalam habis nonton kyoko fukada di DVD terus nonton constantine di TV. Habis gitu tidur. Kok bisa kesiangan? Sial! Sikat gigi, jebar jebur, handukan. Liat di pojokan ada seember cucian dari dua hari lalu. Deterjennya bahkan sampai sempet diganti, direndam lagi, tapi belum dicuci-cuci. Wiken kemaren total tidur-tiduran, keluar cuma buat nonton bioskop bentar. Udah segitu banyaknya tidur, semalam juga rasanya tewas nggak lewat jam dua belas kok masih kesiangan? Nggak habis pikir. Beres mandi kemeja belum diseterika, celana belum diseterika, celana dalam? Masih ada persediaan celana dalam gak ya? Anjrit! Celana dalam habis! Seterika kemeja hitam, seterika celana hitam, haduh…sepatu belum disemir! Yay yay yay! Naek kopaja keknya gak akan keburu, apa naek taksi aja? Pake kemeja dan celana warna hitam. Ucel-ucel rambut pake gel. Sisiran. Semprot pergelangan tangan, leher, ketiak kanan kiri pake XY. Lho, celana dalam? Semir sepatu kilat. Pake jaket, ambil tas, kunci pintu kosan. Jalan udah kek balapan, salip-salipan. Bener dah, naek taksi aja. Enak pake AC, soalnya sampai jalan besar udah keringetan. Duh, nggak akan sempet sarapan. Biarin dah nggak sarapan. Lagian duit jatah sarapan udah dipake bayar taksi. Nyampe kantor belum setengah delapan. Tetap saja saya harus menyapa bapak-bapak itu, “Selamat siang…”
Jul
6
Sudah kulipat Tuhan dalam sajadah titipan ibu dan tersimpan rapi dalam lemari. Sudah kugencet Tuhan yang terlipat dalam sajadah dengan tumpukan jeans, kemeja, t-shirt, dan sebagainya. Berlagak melupa.
Tiap hari kupakai baju dunia. Berlari kesana kemari mengejar kejayaan. Jilat sana sini mencari celah biar bisa berdiri paling depan. Oh iya, senang-senang keluar masuk klab juga wajib. Bersyukur atas segala kemenangan.
Hidup tidak mungkin lebih sempurna dari ini. Tidak ingat bahwa ada yang sengaja aku lupa. L. U. P. A. Hingga akhirnya aku kehilangan keseimbangan di lantai dansa dan jatuh terjerembab.
Entah siapa menarik dan memeluk tubuhku. Lalu kutemukan wajahMu di hadapanku.
Tuhan, kenapa Engkau bisa ada disini?
Lupa. Aku lupa Tuhan dimana-mana.
Haruskah aku pulang sekarang?
Tiba-tiba aku rindu tersungkur di atas sajadahku.


